Oleh: A.Firdaus
Seorang bocah suku Thonga yang telah berusia antara 10 hingga 16 tahun, dia dikirim oleh orang tuanya ke ‘curcumcision school’ yang diselenggarakan tiap 4 atau 5 tahun sekali. Ritual inisiasi ini dimulai dengan berlarinya setiap bocah dalam garis panjang yang di sana telah berbaris para laki-laki dewasa yang akan memukuli mereka dengan tongkat kayu di sepanjang perjalanan. Di akhir perjalanan, baju sang bocah akan dilucuti dan rambutnya dicukur habis. Dia harus menjalani tiga bulan masa inisiasi untuk menjalani enam ujian utama: dipukuli (oleh laki-laki dewasa yang telah dilantik), bertahan dalam cuaca dingin tanpa baju dan selimut, kehausan, makan makanan yang tidak enak, dihukum dengan meremukkan jari ketika ketahuan melanggar aturan, dan terancam tewas selama menjalani ritual. Suku tertua di Afrika Selatan ini masih memelihara tradisi perploncoan untuk anak laki-laki yang ingin mendapat pengakuan sebagai seorang laki-laki dewasa. Sungguh
mengerikan, tapi ini adalah sebuah kenyataan.
Penggalan cerita tersebut mengingatkan kita pada ritual tahunan yang ‘hampir mirip’ secara simbolik dengan ucapan ‘selamat datang’ kepada mahasiswa baru (baca:maba) yang biasa digelar di beberapa kampus di negeri ini.
Bulan ini adalah saat di mana para mahasiswa baru di banyak kampus mulai merinding hebat, Ospek sudah dekat. Orientasi studi dan pengenalan kampus yang dikenal dengan sebutan ‘ospek’ atau dengan kemasan istilah yang berbeda-beda memang pada umumnya identik dengan kekerasan, Ospek yang disebut-sebut sebagai pengkaderan maba telah banyak menuai kritik dan penentangan dari masyarakat kampus. Betapa tidak, wajah pengkaderan mahasiswa dari tahun ke tahun masih memprihatinkan. Hal ini bisa dilihat dari sistem pengkaderan yang yang dianut hingga hari ini. parasnya masih sangat “sederhana” dan “bersahaja” untuk konteks dunia yang semakin mengglobal. Bentakan, cemoohan, dan sesekali ’tappe’ tampaknya masih saja menghiasi wajah generasi penerus kita saat ini.
Sesuai dengan namanya, tujuan awal dari pengkaderan maba adalah untuk membantu mahasiswa baru mengenal program studi dan kampusnya? Iya, memang. Tapi konsep ospek yang dijalankan saat ini telah disetting, didesign dan dimodifikasi sedemikian rupa dari model pengkaderan yang sebenarnya.
Apa yang salah dari pengkaderan mahasiswa? Jika kita telusuri lebih dalam, ternyata semua itu berada pada wilayah paradigma (cara pandang). Selama ini para senior masih saja menggunakan gaya lama, dan terus melestarikan peninggalan mahasiswa terdahulu . Belum ada perubahan signifikan di sini, karena para pengkader itu masih menganggap warisan senior-seniornya bagaikan benda bertuah yang tidak boleh tidak, harus dilestarikan. Seharusnya kita belajar dari negara luar yang mengkader para mahasiswa barunya dengan memperkenalkan pada budaya akademik serta menjaga rasa aman mereka dalam belajar.
Memang inilah ironisnya pengkaderan. Di satu sisi, mahasiswa menganggap bahwa ide ’cerdas’nya layak untuk diaplikasikan pada mahasiswa baru, akan tetapi dalam perjalanannya ada saja ketimpangan di dalamnya. Seperti yang sudah sering terjadi bertahun-tahun silam. Ospek telah mengakibatkan maba cedera, cacat seumur hidup bahkan terenggut jiwanya secara ’terpaksa’. Ketika semua itu terjadi, siapa yang bertanggungjawab?
Melihat fenomena kekerasan yang terus mewarnai pengkaderan maba setiap tahunnya mengundang inspirasi para petinggi beberapa perguruan tinggi di Indonesia berinisiatif menghilangkan ospek yang diwarnai kekerasan tersebut. Salah satu perguruan tinggi ternama di Makassar yang telah menghilangkan ospek sejak tahun 2006 yang lalu menuai kritik habis-habisan hingga saat ini, tidak sedikit mahasiswa senior yang mengajukan argumen tentang mengapa ospek harus dihapuskan. Mereka memprotes kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak rektorat itu, karena dinilai mematikan lembaga mahasiswa. Sehingga dibalik kebijakan itu, masih saja ditemukan pengkaderan maba yang kurang lebih sama dengan sebelumnya.
Suatu masalah yang cukup krusial dalam pandangan masyarakat umum saat ini, ketika mahasiswa dengan lantang memproklamirkan anti penindasan, banyak kejadian penting yangn menorehkan garis horizon diatas nama mahasiswa itu sendiri, bahkan mahsiswa menempati posisi strategis di mata masyarakat yang dipandang sebagai sosok idealis dan akademis. Namun eksistensi mahasiswa perlu disoroti ketika mereka menjadi penggerak skenario atau bahkan jadi ‘sutradara’ dalam pentas kekerasan ini, seakan mengungkap keadaan mahasiswa terpatok dalam sistem yang terkungkung erat, tidak kreatif, dan cenderung pragmatis, sikap hedonis yang telah membudaya karena cenderung mengagung-agungkan budaya barat sebagai budaya yang ‘perfect’ cocok buat Indonesia.
Pengkaderan selama ini memang jarang yang lebih mengarahkan ke fungsi dan peran mahasiswa ideal sebagai Iron stock, agent of change, dan Moral force. Penekanan lebih ke arah bagaimana mereka menghadapi tantangan dan masalah serta mencari solusi atas semua masalah itu. Satu hal yang menarik kita renungkan, bukankah ketika kita menyambut kawan-kawan maba yang masih ‘lugu’ dengan warna kekerasan, diakui atau tidak, sebenarnya merupakan bentuk perlawanan terhadap nurani? Siapapun, sepanjang masih mengedepankan rasionalitas dalam berpikir, akan merasakan suatu pertentangan secara diametral dengan hati kecil mereka. Karena pada dasarnya mahasiswa menolak kekerasan, namun yang terjadi hanyalah bentuk-bentuk represif persuasif yang terjewantahkan dalam dalam kontinuitas keseharian mahasiswa.
Fenomena tersebut menambah daftar kewajiban kita untuk menambah pemahaman tentang pengendalian insting dengan akal, ilmu, dan iman. Kemudian mencoba merevisi atau mengganti format pengkaderan dengan yang lebih baik, yang dapat menunjukkan relevansi pengkaderan maba dengan lahirnya idealisme mahasiswa. Sedikitnya ada 4 point penting yang harus ditekankan pada pengkaderan maba untuk melahirkan mahasiswa yang ideal:
Pertama, materi life skill dan organisasi, fokus yang dibangun di sini adalah pengkaderan berbasiskan kesadaran. Karena yang perlu ditanamkan dari awal di benak maba adalah kesadaran pengenalan diri. Juga perlu diperkenalkan organisasi. Jangan sampai mahasiswa hanya mentok pada bangku kuliah saja. Tentu beda seorang mahasiswa yang cerdas-organisatoris dengan mahasiswa yang pasifis. Materi ini lebih efektif daripada bentakan dan cemoohan yang tidak jelas. Bagaimana mungkin bisa jadi intelegensia kalau moralitas saja lemah.
Kedua, ketauladanan dari senior yang merupakan master plan mereka dalam menjajaki kehidupan baru di kampus. Senior yang baik adalah yang membimbing mabanya menjadi baik. Ia seperti seorang guru yang membantu sang murid mencapai cita-citanya. Masalahnya kemudian, masih ada beberapa kasus di lapangan yang para senior main hakim sendiri. Maba dibuat seperti mainan yang bisa diapakan saja. Lebih parahnya lagi, jika ‘pengkaderan’ ini sudah mengarah pada pemukulan fisik. Ini banyak terjadi. Mungkin karena sebuah ‘dendam’ yang tak tersalurkan di masa lalu, sehingga ketika masa yang dinantikan itu tiba, saat label senior telah melekat pada dirinya, maka junior menjadi sasaran empuk untuk ‘menyalurka hajat’ tak heran jika sesekali tendangan dianggap sesutu yang wajar sebagai ucapan selamat datang kepada mereka. Sungguh kasihan si maba yang malang itu, ingin maju malah kena tinju!
Ketiga, titik tolak untuk berubah, pengkaderan sebagai suatu proses untuk beradaptasi dan juga merubah pola pikir mahasiswa dari pola pikir siswa menjadi pola pikir mahasiswa yang katanya mahasiswa itu kritis. Di sini kita bisa menumbuhkan idealisme mahasiswa dengan menamamkan sikap disiplin yang bisa mereka terapkan dalam kehidupan sehari-harinya. ingat pengkaderan bukan hanya sebagai ajang untuk menciptakan kader suatu institusi tetapi sebagai ajang untuk mengubah pola pikir kader menjadi lebih baik dan dapat diterapkan selamanya bukan hanya pada saat dia berada di institusi itu.
Keempat, bersifat religius, jika format pengkaderan maba didasari oleh pemahaman agama (baca: Islam), maka akan terlahir kader-kader anak bangsa yang ideal, akan muncul sosok mahasiswa yang kritis, akademis, dan idealis. Dengan menjadikan Islam sebagai tiang awal kita untuk mengkader maka kekerasan tidak akan terjadi lagi.
Pengkaderan yang baik itu penting, bukankah manusia akan semakin termotivasi belajar jika ia dalam keadaan senang? Maka dari itu, alangkah baiknya juga para senior yang terhormat, yang memiliki segudang teori ilmu pengetahuan serta pengalaman, membawa mereka sampai ke gerbang penantiaannya.
Tentunya semua itu bisa terlaksana dengan jika dilandasi dengan spirit keikhlasan dalam dada. Jangan ada dendam kesumat dengan sebuah kedzaliam dan tindak kekerasan karena Allah telah menjelaskan kepada kita: ”Dan bagi orang-orang yang dzalim (pelaku kekerasan) itu tidak ada seorangpun pelindung dan tidak ada pula penolong baginya” (QS. Al Hajj: 71). Rasulullah Shallalahu ’alaihi wasallam juga pernah bersabda: ”Takutlah kalian pada kedzaliman, karena kedzaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat”
Jika dulu pernah disakiti, maka lebih mulia membalas itu dengan cinta. Cinta yang tulus dari dasar jiwa akan membawa manusia pada kesadaran bahwa hidup haruslah berarti. Sunggu Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan Allah akan membalasnya. Wallahu A’lam bish Shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar